Lestarikan Budaya Lewat Lomba Dolanan Anak

SLEMAN – Sebanyak 12 sekolah dasar (SD) mengikuti lomba dolanan anak yang digelar dalam rangka Hari Jadi Satu Abad Kabupaten Sleman. Perlombaan diadakan di halaman Kantor Kecamatan Ngemplak dengan peserta siswa SD se-kecamatan.

Permainan anak yang dilombakan bersifat tradisional dan mengajarkan kerjasama seperti jaranan, jamuran, egrang, sepatu batok, dan jetungan. “Perlombaan dimainkan secara berkelompok. Masing-masing kelompok berjumlah lima sampai dua belas anak,” kata panitia, Beska, Selasa (17/5).

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda. Saat ini, eksistensi dolanan anak terus surut seiring merebaknya permainan modern yang cenderung bersifat individualistik, dan sarat kekerasan.

Padahal permainan anak tradisional sarat makna positif seperti kekompakan, kejujuran, dan kebersamaan. “Penyelenggaraan lomba ini merupakan salah satu bentuk pelestarian dolanan anak era tahun 90an. Sekarang ini permainan tradisional mulai ditinggalkan karena anak-anak lebih memilih games modern,” katanya.

Camat Ngemplak Subagyo juga sepakat bahwa dolanan anak harus dilestarikan dan dikenalkan kepada anak-anak masa kini. Sebab itu merupakan bagian dari budaya. “Anak-anak jangan hanya diajari permainan berbasis teknologi seperti games ponsel atau playstation. Tapi juga harus dikenalkan dolanan tradisional agar mereka bisa ikut menjaga budaya bangsa,” ujarnya.

Adapun juri perlombaan ini terdiri dari tiga guru kesenian dengan titel sarjana lulusan ISI. Setelah dinilai, juri memutuskan juara I diraih SD Randusari, juara II SD Model, dan juara III SD Kejambon. Juara pertama selanjutnya akan mewakili kecamatan di lomba tingkat kabupaten yang dijadwalkan akhir bulan Mei.

(suaramerdeka)

Share this post

Post Comment